PgriBeltim.Com | ArtaSariMediaGroup ~ Suasana Auditorium Zahari MZ, Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Selasa (12/5/2026) pagi, terasa berbeda dari biasanya.
Ratusan guru yang memenuhi ruangan tampak larut dalam perhatian saat satu per satu pesan tentang pendidikan karakter disampaikan dari atas podium.
Namun bukan sekadar materi seminar yang membuat suasana menjadi begitu hangat dan emosional.
Ada rasa bangga yang tumbuh di antara para peserta ketika sosok yang berdiri di hadapan mereka ternyata bukan orang asing bagi Belitung Timur.
Ia adalah Brigjen Pol Murry Mirranda, Wakapolda Kepulauan Bangka Belitung, putra asli Kelapa Kampit yang kini berhasil menembus jajaran perwira tinggi Polri.
Kepulangannya ke tanah kelahiran kali ini bukan dalam suasana seremonial semata.
Ia hadir membawa pesan yang lebih dalam: bahwa keberhasilan seseorang tidak lahir secara instan, melainkan dibentuk oleh pendidikan karakter, disiplin, lingkungan keluarga, dan terutama keteladanan guru sejak usia dini.
Di hadapan ratusan guru peserta Seminar Pendidikan Karakter PGRI Kabupaten Belitung Timur Tahun 2026, Murry berbicara lugas, hangat, dan penuh penghormatan terhadap profesi pendidik.
“Sebenarnya ini kegiatan sangat luar biasa. Mungkin ini baru sekali diinisiasi oleh Beltim dan ini perlu dicontoh oleh kabupaten-kabupaten lain bagaimana menghargai peran guru,” kata Murry disambut tepuk tangan peserta seminar.
Pernyataan itu bukan sekadar pujian formal. Ada nada emosional yang terasa kuat dari seorang anak daerah yang memahami betul bagaimana pendidikan telah mengubah jalan hidupnya.
Guru Tidak Sekadar Mengajar, Tapi Membentuk Watak Bangsa
Dalam paparannya, Murry menegaskan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak lagi hanya soal kemampuan akademik, melainkan pembentukan karakter generasi muda di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Menurutnya, kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi membuat anak-anak sekarang menghadapi tantangan moral yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.
Karena itu, guru memiliki posisi yang sangat penting sebagai penjaga nilai dan pembentuk kepribadian anak.
“Anak-anak kita hari ini hidup di era digital yang sangat terbuka. Kalau tidak dibekali karakter yang kuat, mereka bisa kehilangan arah,” ujarnya.
Brigjen Pol Murry Mirranda Pulang Membawa Pesan tentang Guru, Karakter, dan Masa Depan Anak Beltim
Murry menilai pendidikan karakter harus dimulai sejak dini, bukan hanya di sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Nilai disiplin, tanggung jawab, kejujuran, rasa hormat, hingga kepedulian sosial menurutnya harus ditanamkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Ia bahkan mengakui bahwa keberhasilannya meniti karier di institusi Polri tidak lepas dari didikan guru dan lingkungan pendidikan yang membentuk mentalnya sejak kecil di Belitung Timur.
“Yang membentuk saya sampai bisa berdiri di sini bukan hanya pendidikan formal, tetapi nilai-nilai hidup yang diajarkan guru-guru saya dulu,” ungkapnya.
Pernyataan itu membuat suasana auditorium sejenak hening. Sebagian guru tampak tersenyum haru mendengar pengakuan seorang jenderal polisi yang tidak melupakan akar pendidikan masa kecilnya.
Keteladanan Lebih Penting dari Ceramah
Dalam seminar tersebut, Murry juga menyoroti pentingnya keteladanan dalam dunia pendidikan.
Menurutnya, anak-anak tidak hanya mendengar apa yang diajarkan, tetapi lebih banyak meniru apa yang mereka lihat.
Karena itu, guru dituntut menjadi figur yang mampu memberi contoh baik dalam sikap, perilaku, maupun cara menghadapi persoalan hidup.
“Karakter itu bukan dibangun lewat ceramah saja. Anak-anak melihat bagaimana gurunya bersikap, bagaimana berbicara, bagaimana menghargai orang lain,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa generasi muda hari ini membutuhkan sosok panutan yang nyata di tengah maraknya pengaruh negatif media sosial dan budaya instan.
Jika sekolah kehilangan keteladanan, maka ruang pembentukan karakter anak akan semakin lemah.
Pesan tersebut terasa relevan dengan kondisi sosial saat ini, ketika banyak pihak mulai mengkhawatirkan menurunnya etika, kedisiplinan, hingga rasa hormat generasi muda terhadap lingkungan sosialnya.
Beltim Dinilai Berani Memulai Gerakan Pendidikan Karakter
Seminar Pendidikan Karakter yang digagas PGRI Beltim mendapat apresiasi tinggi dari Murry karena dinilai menjadi langkah nyata memperkuat kualitas pendidikan daerah.
Ia bahkan menyebut kegiatan tersebut sebagai sesuatu yang jarang dilakukan di banyak daerah lain.
Menurutnya, perhatian terhadap pendidikan karakter sering kali kalah dibanding pembahasan soal angka kelulusan atau capaian akademik.
Padahal, keberhasilan suatu daerah di masa depan sangat ditentukan oleh kualitas karakter generasi mudanya.
“Kalau karakter anak-anak kuat, mereka akan mampu menghadapi tantangan apa pun,” ujarnya.
Murry juga menilai keberanian PGRI Beltim mengangkat tema pendidikan karakter menunjukkan kepedulian nyata terhadap masa depan daerah.
Baginya, membangun daerah tidak cukup hanya dengan infrastruktur atau pembangunan fisik, tetapi juga harus dibarengi pembangunan manusia yang berintegritas.
Guru di Daerah Memiliki Perjuangan yang Tidak Ringan
Di sela penyampaiannya, Murry turut menyinggung perjuangan para guru di daerah yang sering kali bekerja dalam keterbatasan.
Menurutnya, banyak guru tetap bertahan mendidik dengan penuh dedikasi meski menghadapi tantangan fasilitas, akses pendidikan, hingga kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah.
Karena itu, ia meminta seluruh pihak untuk lebih menghargai profesi guru.
“Kalau hari ini kita bisa menjadi apa pun, pasti ada guru di belakang perjalanan hidup kita,” katanya.
Ucapan tersebut langsung mendapat sambutan hangat peserta seminar.
Bagi masyarakat daerah seperti Belitung Timur, profesi guru memang memiliki kedekatan emosional tersendiri. Di banyak desa, guru bukan hanya pendidik, tetapi juga tokoh sosial yang ikut membentuk kehidupan masyarakat.
Mereka hadir bukan sekadar di ruang kelas, tetapi juga di tengah berbagai persoalan sosial masyarakat.
Pendidikan Karakter Dinilai Penting untuk Menekan Kenakalan Remaja
Sebagai pejabat kepolisian, Murry juga menyoroti hubungan erat antara pendidikan karakter dengan berbagai persoalan sosial yang muncul di kalangan remaja.
Ia menyebut banyak kasus kenakalan remaja, kekerasan, penyalahgunaan narkoba, hingga perundungan berawal dari lemahnya fondasi karakter sejak dini.
Karena itu, menurutnya pendekatan pendidikan harus lebih menekankan pembentukan moral dan penguatan mental anak.
“Kalau anak-anak memiliki karakter kuat, mereka akan punya benteng dalam menghadapi pengaruh negatif,” ujarnya.
Ia menilai sinergi antara sekolah, keluarga, pemerintah, dan aparat keamanan menjadi penting untuk menjaga generasi muda dari berbagai ancaman sosial.
Dalam konteks itu, guru memiliki peran strategis sebagai garda terdepan pembentukan karakter anak.
Putra Daerah yang Menjadi Inspirasi
Kehadiran Brigjen Pol Murry Mirranda di tengah para guru Beltim juga menghadirkan simbol penting bagi masyarakat lokal: bahwa anak daerah memiliki peluang besar untuk berhasil di tingkat nasional.
Lahir dan tumbuh di Kelapa Kampit, Murry menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk meraih prestasi.
Perjalanannya menembus posisi Wakapolda Bangka Belitung menjadi inspirasi tersendiri bagi generasi muda Beltim.
Banyak peserta seminar mengaku bangga melihat putra daerah yang tetap rendah hati dan tidak melupakan asal-usulnya.
Dalam berbagai kesempatan, Murry memang dikenal cukup dekat dengan masyarakat Belitung Timur dan kerap menekankan pentingnya pendidikan sebagai jalan perubahan hidup.
Pesan itu terasa semakin kuat ketika disampaikan langsung kepada para guru yang sehari-hari berjuang membentuk masa depan anak-anak daerah.
Pendidikan Bukan Sekadar Mengejar Nilai
Seminar tersebut juga menjadi ruang refleksi bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada angka dan prestasi akademik semata.
Di tengah persaingan global dan perkembangan teknologi, pendidikan justru harus mampu melahirkan manusia yang tangguh secara moral, emosional, dan sosial.
Murry menilai generasi masa depan membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan intelektual.
Mereka membutuhkan empati, keberanian, integritas, kemampuan bekerja sama, serta kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.
Karena itu, pendidikan karakter harus menjadi gerakan bersama.
“Anak yang pintar itu penting, tapi anak yang punya karakter baik jauh lebih penting,” tegasnya.
Kalimat itu kembali memancing tepuk tangan panjang dari peserta seminar.
Menyalakan Harapan dari Ruang Pendidikan
Di akhir kegiatan, suasana auditorium terasa penuh semangat sekaligus haru. Seminar yang awalnya sekadar forum pendidikan berubah menjadi ruang refleksi tentang masa depan generasi muda Belitung Timur.
Banyak guru terlihat antusias berdiskusi dan mengabadikan momen bersama Brigjen Pol Murry Mirranda.
Kehadiran seorang putra daerah yang berhasil menembus posisi tinggi di institusi negara memberi energi moral tersendiri bagi dunia pendidikan Beltim.
Lebih dari itu, seminar tersebut menghadirkan pesan sederhana namun kuat: bahwa perubahan besar selalu dimulai dari ruang-ruang pendidikan.
Dari tangan seorang guru di desa kecil, lahir anak-anak yang kelak bisa menjadi pemimpin, penegak hukum, akademisi, dokter, pengusaha, bahkan tokoh bangsa.
Dan di Belitung Timur, pesan itu kembali diingatkan oleh seorang anak kampung dari Kelapa Kampit yang pulang membawa rasa hormat kepada guru-gurunya.
Sebab di balik seragam jenderal yang dikenakannya hari ini, ada jejak panjang pendidikan karakter yang ditanamkan sejak kecil — oleh keluarga, lingkungan, dan terutama para guru yang mungkin tak pernah menyangka muridnya suatu hari akan kembali sebagai inspirasi bagi daerahnya sendiri. | PgriBeltim.Com */Redaksi | *** |
